Buletin FPBS Mei 2020: Memperingati Hari Besar Umat Beragama, Pergerakan Nasional dan Internasional

Penulis: Muhammad Islakhul Huda

Mulai dari tanggal 1 Mei yang diperingati sebagai hari Buruh. Dikutip dari laman Katadata.com bahwasanya “Hari buruh diperingati setiap 1 Mei. Tahun ini, polisi mengimbau agar tak ada perayaan untuk mencegah penularan virus corona.” Dalam mengatasi masa sulit ini, beberapa pihak termasuk pihak medis yang siang dan malam berjaga untuk menangani setiap pasien yang tiap waktu keluar-masuk Rumah Sakit, begitupula pihak pemerintah yang tiap waktu menentukan kebijakan terbaru untuk membangun setiap sisi baik hajat hidup maupun perekonomian negeri ini dapat terangkat walau dalam menangani masa sulit seperti ini.

Dalam beberapa waktu lalu, beberapa pekerja juga harus terpaksa di rumahkan untuk memutuskan dan menanggulangi penyebaran SARS-CoV 2 atau yang lebih dikenal dengan COVID-19 ini. Beberapa kebijakan juga telah dicanangkan seperti dikutip dari prakerja.go.id bahwa “Kartu Prakerja adalah program pengembangan kompetensi berupa bantuan biaya yang ditujukan untuk pencari kerja, pekerja ter-PHK atau pekerja yang membutuhkan peningkatan kompetensi.” Yang membuktikan bahwa fokus pemerintah untuk mengayomi seluruh rakyat sudah ada, walaupun memang butuh evaluasi di segala sisi untuk menyempurnakan sistem kerjanya sendiri.

Lalu tanggal 2 Mei yang diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Kita ketahui bahwa Mei merupakan bulan-bulan pendidikan dan perjuangan, banyak yang kita perjuangkan untuk bisa melingkupi hajat hidup semua orang, baik pendidikan sekalipun. Banyak pejuang pendidikan yang rela menghabiskan waktu usaha dan tenaga mengemban tugas mulia, mendidik anak manusia untuk semakin lama semakin bisa bertahan di era sulit ini. Dikutip dari laman warungsatekamu.org yang berjudul Teruntuk  Semua  Guru oleh Oleh Chia Poh Fang, Singapura yang kemudian telah di terjemahkan disebutkan bahwa “Seperti halnya para petugas medis dan pekerja lainnya di sektor esensial yang harus tetap beroperasi, para pendidik mengalami kesibukan yang luar biasa, khususnya sejak akhir Maret.”

Ditambahkan lagi “mengelola sistem pembelajaran secara daring membuat mereka kewalahan. Istri dari temanku bercerita padaku kalau guru-guru harus bekerja lebih keras dalam mengemban tanggung jawab mereka di masa-masa krisis ini. Mereka tak cuma harus mengajar kelas-kelas seperti biasanya, tapi juga harus menyiapkan modul pelajaran yang baru untuk siswa-siswi di rumah, lalu memantau satu per satu siswa untuk memastikan apakah mereka bisa mengikuti pelajarannya atau tidak.” Yang menggambarkan banyaknya perjuangan untuk membangun sistem pendidikan semakin bisa memberikan ilmu yang bermanfaat bagi keberlangsungan peserta didik, untuk seluruh perjuangan, tiada kata lain selain “terima kasih sebanyaknya.”

Di lansir dari laman Kompas.com “Semboyan pendidikan dalam sistem pendidikan, Ki Hajar Dewantoro selalu menerapkan tiga semboyan dalam bahawa Jawa, yaitu:

Ing ngarso sung tulodho
(Di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik)

Ing madyo mbangun karso
(Di antara murid, guru harus menciptakan ide dan prakarsa)

Tut wuri handayani
(Dari belakang, seorang guru harus bisa memberikan dorongan serta arahan)

Dan sampai saat ini, semboyan tersebut sangat dikenal di kalangan pendidikan Indonesia dan terus digunakan dalam dunia pendidikan masyarakat Indonesia.”

Kami tidak pernah tahu, siapa yang akan menerangi masa sulit seperti ini dengan ilmu dan pendidikan yang kuat serta kokoh ditanamkan oleh para guru dan tenaga pendidikan pada tiap individu manusia.

Kemudian pada tanggal 7 Mei yang diperingati sebagai Hari Raya Waisak. Di lansir dari laman Kompas.com “Dalam perayaan Waisak, diperingati tiga peristiwa dengan nama Trisuci Waisak. Di mana perayaan dilakukan pada purnama pertama bulan Mei, sehingga tanggal jatuhnya Hari Raya Waisak bisa berbeda setiap tahunnya.” Dan bertepatan pada bulan Mei di tahun ini, umat beragama Budha juga terdampak dari adanya pandemi, namun tidak pernah menyurutkan niatnya untuk mendoakan dan bersyukur terhadap Tuhan yang menciptakan alam ini.

Di lansir dari laman Detik.com bahwa “Pemerintah mengimbau umat Buddha untuk merayakan Hari Raya Waisak dan kegiatan agama lainnya dari rumah. Kebijakan ini diambil demi mendukung percepatan proses penanganan virus corona di Indonesia.” Namun ada sebuah pelajaran dan ucapan dari kaum Budha “Atthana Rakkhati, Saranam Dhammam, Annanam Saranam, Dhammam Lokhiya Rakhati.” yang artinya “Perlindungan yang Aman di Dunia ini, Kecuali Dhamma yang Dipraktekkan dengan Ketulusan Hati.” Yang kemudian dapat pula kita maknai dengan segala ilmu, ajaran, dan pendidikan yang kita dapatkan, akan semakin lengkap dan senantiasa melindungi diri kita apabila kita dapat mempraktikkannya, terlebih menjalankan praktiknya dengan hati yang tulus dan niat yang baik, untuk kebaikan kita sesama, seluruh manusia dan umat beragama.

Kemudian sebagaimana kita ketahui pada tanggal 8 Mei diperingati sebagai Hari Palang Merah Internasional. Di lansir dari laman promkes.kemkes.go.id bahwa Hari Palang Merah Sedunia diperingati pada tanggal 8 Mei setiap tahunnya. Ditetapkannya 8 Mei sebagai Hari Palang Merah Sedunia merupakan hari lahir Bapak Palang Merah, Jean Henri Dunant. Jean Henri Dunant merupakan seorang aktifis sosial asal Swiss dan beliau merupakan inspirasi dari terbentuknya Komite Internasional Palang Merah (ICRC) pada tahun 1863.

Dan bertepatan pada tanggal 8 Mei 2020 ini, di lansir dari laman Kompas.com bahwa di Indonesia, mereka (Palang Merah Internasional/International Federation of Red Cross and Red Crescent Society atau yang disingkat ICRC) juga berfokus pada tindakan pencegahan di tempat-tempat penahanan. Termasuk untuk distribusi alat kebersihan dan perlindungan medis seperti sabun, masker, sarung tangan dan desinfektan. Bersama Palang Merah Indonesia, mereka memodifikasi kendaraan menjadi ambulans agar bisa digunakan untuk merespons Covid-19. Peralatan perlindungan pribadi dan dukungan keuangan juga diberikan kepada staf sukarelawan selama 3 bulan pertama.

Kemudian untuk menghargai seluruh kerja keras tenaga medis dan segala lapisan di seluruh Indonesia khususnya di Jawa Tengah maupun di Semarang, kami mengucapkan “terima kasih banyak, atas perjuangan berat tiada henti ini.”

Dan tahukah kalian? 17 Mei diperingati sebagai hari Buku nasional? Di lansir dari media Kompas.com bahwasanya Di masa lalu, tokoh-tokoh pemimpin Indonesia dikenal merupakan sosok yang suka membaca. Salah satunya Bung Hatta yang dikenal dengan kalimatnya, “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas”. Dari penggambaran kata “bebas”, yang dimaksud bisa saja merujuk pada peribahasa “Buku sebagai jembatan ilmu”, dengan buku kita dapat menyatukan banyak ilmu pengetahuan dan membebaskan pikiran kita untuk selanjutnya dapat hanyut ke dalam setiap susunan kata dan kalimat dari buku itu sendiri.

Walaupun membaca buku yang berisi ilmu dan berat bahasanya kadang sangat sulit karena kita tidak tahan dan membosankan, kita dapat mengalihkannya pada pokok bacaan lain, seperti buku kumpulan puisi, buku cerita, dan buku lain yang lebih mudah dan menyenangkan untuk kita cerna dalam pikiran kita. Di tengah masa sulit seperti ini, membaca buku juga merupakan salah satu cara jitu untuk memutus rantai kebosanan yang kita derita, saat bekerja dari rumah ataupun melakukan pembelajaran dari rumah. Kita dapat memperkaya diri kita sendiri dengan ilmu pengetahuan dan pemikiran baru tentang menanggapi suatu masalah ataupun menghadapi masa sulit, apabila ditemukan lagi dengan masa seperti ini.

Kemudian pada tanggal 20 Mei diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Tema yang daingkat dalam Hari Kebangkitan Nasional 2020 yang berbunyi “Bangkit dalam optimisme normal baru” memiliki tujuan untuk mengajak seluruh elemen masyarakat membiasakan diri dengan cara hidup baru dan tetap produktif di tengah masa sulit menghadapi pandemi Covid-19. Membiasakan diri dengan cara hidup baru meliputi terbiasa menerapkan protokol kesehatan, protokol transportasi, protokol edukasi dan protokol lain. Termasuk perubahan standar dalam mekanisme kerja, kebiasaan masyarakat, dan belajar serta aktivitas lain.

Harapannya agar seluruh elemen masyarakat terkhusus untuk mahasiswa dan seluruh pemuda-pemudi juga berperan aktif untuk kebangkitan negara kita, dan menghentikan kata-kata “Indonesia Terserah” yang sempat ramai menjadi bahan perbincangan baik di media sosial maupun di segala sisi, karena adanya sedikit kesalahan dalam sistem komunikasi. Untuk menjadi bangsa yang maju, baiknya kita belajar pada apa yang ada. Renungi beberapa kejadian yang menimpa di seluruh dunia, bahkan berikan banyak fokus untuk kemudian memperkokoh ketahanan bangsa.

Lalu pada tanggal 21 Mei yang diperingati sebagai Kenaikan Isa Almasih. Di lansir dari laman liburnasional.com, hari kenaikan Isa Almasih atau kenaikan Yesus Kristus adalah peringatan naiknya Yesus ke surga. Setelah memberikan pesan terakhir kepada pengikut-pengikutnya di bukit Olivet dekat kota Yerusalem, mereka menyaksikan Yesus terangkat naik ke langit hingga akhirnya tidak terlihat karena tertutup awan. Peristiwa ini selalu dirayakan pada hari ke-40 atau hari kamis ke-6 setelah minggu Paskah.

Bertepatan pula pada tahun ini perayaan Hari Kenaikan Isa Almasih diperingati pada hari Kamis tanggal 21 Mei 2020. Yang tidak terkecuali untuk umat beragama kristiani yang merayakan peringatan ini dengan penuh khidmat di rumah saja, dan tetap mematuhi protokol dan himbauan pemerintah untuk menjaga kesehatan dan menjaga agar tidak berkerumunan atau berkumpul di suatu tempat demi memutusnya penyebaran virus SARS-CoV2 dan akhirnya memperburuk keadaan nantinya.

Seperti di lansir dari laman liputan6.com, dalam khidmat peribadatan memperingati Kenaikan Isa Almasih, warganet di Indonesia pun membanjiri lini masa Twitter dengan pesan perdamaian ke seluruh penjuru Nusantara. Lewat pesan-pesan yang diunggah ke situs microblogging tersebut, warganet berharap dapat menjadi pengingat untuk senantiasa menjaga persatuan dan perdamaian meskipun dalam kondisi pandemi saat ini.

Kemudian pada tanggal 25 Mei 2020 yang diperingati sebagai Hari Raya Idul Fitri. Di lansir dari laman Kompas.com dalam 125 Masalah Haji (2008) karya Al-Furqon Hasbi, Idul Fitri secara bahasa artinya adalah kembali berbuka, hari boleh makan dan minum, setelah berpuasa Ramadhan.  Fitri berasal dari kata fathara – yafthuru – fithran yang artinya makan atau minum. Makna Idul Fitri (hari kembali berbuka) adalah hari ketika umat Islam sudah boleh kembali makan dan minum setelah tidak makan dan minum di pagi hari selama bulan Ramadhan.

Serta seperti kita ketahui, seluruh umat beragama tanpa terkecuali umat islam merayakan Idul Fitri sesuai dengan himbauan pemerintah, agar kita juga bisa semakin memaknai dan bersyukur atas kekuatan dan limpahan rahmat yang diberikan Allah sehingga umat Islam tanpa terkecuali mampu melakukan kontrol diri (mengendalikan diri) selama bulan puasa dalam mencapai tujuan Ramadhan itu sendiri.

Dan harapannya, untuk seluruh lapisan masyarakat di dalam bangsa yang memiliki keberagaman suku, budaya, ras dan agama ini, semakin bisa mengendalikan diri, menyebarkan hal-hal baik, memberikan arti atau memaknai segala hal yang terjadi sebagai salah satu masalah yang belum selesai ini merupakan langkah yang harus kita tempuh untuk dapat memperjuangkan bangsa lebih lagi kedepannya, sesuai dengan nilai dan moral pembangunan yang kita galakkan bersama, dalam persatuan Indonesia.

Penulis: Muhammad Islakhul Huda